Haji atau Gengsi
Haji adalah ibadah yang istimewa jika dilihat dari beratnya persyaratan, prosesi ibadah dan reward yang dijanjikan oleh Sang Pemilik Kehidupan, Allah SWT. Karenanya sangat masuk akal jika haji ditempatkan sebagai rukun Islam yang ke lima. Saking istimewanya setiap tahun jutaan umat muslim dari seluruh dunia rela menghabiskan biaya yang besar, meluangkan waktunya dan meninggalkan segala kenyamanan dunianya selama berhari-hari untuk berkumpul di tanah suci. Tidak terkecuali jamaah haji dari Indonesia yang jumlahnya kurang lebih mencapai 250-ribuan orang per tahunnya. Jumlah yang sangat besar karena indonesia pemilik umat muslim terbesar di dunia. Sementara bagi umat muslim lain yang belum beruntung hanya bisa menyaksikannya dari layar kaca. Bisa jadi mereka pun orang-orang yang memiliki mimpi yang sama agar bisa datang ke tanah suci untuk memenuhi panggilan Ilahi. Di Indonesia sendiri masih ada jutaan orang yang menunggu giliran karena panjangnya antrian hingga mencapai 10 tahun lebih. Luar biasa….
Karena selain untuk memenuhi rukun Islam yang ke lima, dan memenuhi
panggilan Allah SWT, haji juga merupakan ibadah yang memiliki daya tarik dan
daya magis luar biasa yang berkaitan dengan gengsi dan status sosialnya di
masyarakat. Lihatlah, mereka yang belum bisa berhaji. Segala daya dan upaya
diperjuangkan untuk bisa memenuhi syarat memenuhi panggilan-Nya. Beberapa di
antaranya bahkan rela melacurkan dan merendahkan diri dengan berbuat curang dan
melanggar aturan agama dan Negara agar bisa segera berangkat berhaji. Misalnya,
ada koruptor yang berhaji untuk menyamarkan hartanya sekaligus sebagai
pertobatan sementara. Tobat saat berhaji lalu kumat lagi selesai berhaji. Di sisi
lain ketika orang – orang yang benar – benar ingin melaksanakan haji karena
bukan gengsi semata harus terhalang oleh biaya, dan antrian yang lama hal ini
tidak terjadi bagi para pejabat tinggi negara karena mereka dapat bebas
berangkat ke tanah suci tanpa menunggu antrian layaknya masyarakat biasa. Tidak
hanya itu otoritas negara yang mengelola proses ibadah haji mulai dari
keberangkatan, proses ibadah di tanah suci, hingga pulang kembali ke tanah air
tidak luput dari sarang koruptor.
Banyaknya umat muslim Indonesia yang telah berhaji dan
berminat untuk berhaji seharusnya bisa dijadikan salah satu indikator kesalehan
individu dan kesalehan sosial bangsa Indonesia. Ibadah seharusnya melahirkan
orang-orang saleh, jujur, berintegritas dan mampu menjadi teladan bagi yang
lain. Lihatlah, hampir semua prosesi dalam ibadah haji adalah pengglembengan
spiritual yang berkaitan dengan peningkatan kesalehan individu dan kesalehan
sosial jamaah haji. Jika benar haji untuk melahirkan orang-orang saleh, jujur,
berintegritas dan mampu menjadi teladan bagi yang lain maka seharusnya
produk-produk haji mampu menjadi lokomotif kesalehan sosial dan kemajuan
bangsa. Tapi faktanya justru sebaliknya. Hampir sebagian besar koruptor yang
beragama Islam dan namanya banyak dikenal publik justru orang-orang yang telah
berhaji dan umroh dan ini sangat bertolak belakang dengan membludaknya jumlah Pak Haji dan Bu
Haji di tanah air tercinta. Lebih miris lagi ternyata membludaknya Pak Haji dan
Bu Haji serta calon Pak Haji dan Bu Haji yang jumlahnya mencapai jutaan orang
tersebut ternyata tak berbanding lurus dengan moralitas, kesalehan sosial dan
masyarakat madani yang berkeadilan.
Melihat fenomena yang telah dengan terang benderang
digambarkan di atas, maka menjadi pertanyaan kita semua mengapa ibadah haji
tidak memberikan perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat. Jawabannya bisa
jadi karena adanya perubahan paradigma di masyarakat bahwa berhaji hanya untuk
memenuhi rukun Islam yang ke lima semata. Tidak lebih dan tidak kurang.
Paradigma yang lebih mengutamakan meraih gelar haji daripada esensi dan
implikasi produk dari berhaji.Bisa jadi ada di antara mereka yang berhaji
karena hanya ingin mendapatkan label Pak Haji dan Bu Haji untuk meningkatkan
gengsi sosial di masyarakat, tetapi tidak semua haji indonesia seperti apa yang
saya gambarkan di atas.
Hal ini harus segera di atasi karena apabila tidak akan
berdampak buruk di masa yang akan datang terutama bagi umat muslim di
indonesia. Langkah – langkah yang dapat kita lakukan antara lain adalah
mengubah paradigma berhaji itu sendiri, bagi yang melaksanakan haji harus
memaknai setiap proses ibadah di tanah suci mulai dari tawaf, wukuf, sai,
lempar jumroh, dll, dan berhaji semata – semata karena Allah SWT.
Tambahan Refrensi : http://lifestyle.kompasiana.com
Tambahan Refrensi : http://lifestyle.kompasiana.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar