Ali adalah seorang guru honorer pada
tahun 90an di sebuah sekolah dijakarta, ia memiliki seorang istri yang sangat
mencintainya bernama Siti, Mereka berdua tinggal bersama ibu Ali dirumah
sederhana peninggalan ayah Ali yang telah wafat 5 tahun yang lalu. Sejak kecil
Ali selalu berkeingininan untuk memberangkatkan ibunya ke tanah suci yang telah
lama dirindukan oleh ibunya, namun hingga ia dewasa dan menikah kini mimpi
tersebut belum sempat terwujud karena alasan keterbatasan biaya yang ia miliki.
Satu - satunya harta yang ia miliki adalah motor tua yang telah dia miliki
sejak ia masih berstatus siswa SMA, hingga saat ini motor itu masih terawat
dengan baik olehnya. Ali sering mendatangi pengajian yang diadakan dimasjid
tidak jauh dari tempat dia mengajar, seiring seringnya Ali mendatangi pengajian
tersebut hingga membuat pengurus masjid dan sang ulama setempat mengenalnya
dengan baik karena kepribadian Ali yang baik dan mudah bergaul dengan
lingkungan sekitar.
Disuatu siang sepulang mengajar
seperti biasa Ali menyempatkan untuk datang ke pengajian rutinnya, kebetulan
tema pengajian pada saat itu mengupas mengenai keutamaan sedekah dan
manfaatnya.”Tidak akan berkurang harta yang disekahkan melainkan akan
bertambah… bertambah… bertambah…” kata sang kiayi mengutip hadist Nabi. Setelah
usai pengajian sang kiayi membuka sorban yang ia kenakan dan diletakannya
sorban tersebut diatas lantai lalu ia berkata “mari saudara saudara kita
sedekahkan harta terbaik kita saat ini”, dengan serentak semua orang yang ada
di pengajian itupun memberikan harta terbaik mereka mulai dari semua uang yang
ada di dompet, cincin, jam tangan, dan apapun yang mereka milki ketika itu, Ali
seketika terdiam saat itu karena ia tak bisa menyedekahkan apapun bukan karena
ia tak ingin bersedekah tetapi ia merasa tidak ada satupun harta berharga yang
ia miliki untuk disumbangkan. Keluar dari pengajian dengan hati yang kecewa Ali
pun menuju parkiran tempat ia menyimpan motornya, ketika ia menatap motor
kesayangannya ia pun langsung berkeinginan untuk menyedekahkan harta
satu-satunya itu. Tanpa pikir panjang ia segera pulang kerumah untuk meminta
izin kepada istri dan ibunya untuk menjual motornya. “ibu… saya mau minta izin
mau jual motor yang di beliin bapak “ kata Ali dengan nada yang rendah, “emang
kenapa ko mau jual motor segala, Ali butuh uang buat apa?” jawab sang ibu, “
insyaAllah Ali mau sedekahkan uang hasil penjualan motor nanti, yaa semoga aja
dengan cara itu Allah ngasih ridho-Nya buat Ali supaya bisa berangkatin ibu
ibadah haji” jawab Ali, “ yaa ampun udah lah mungkin emang belom rezeki ibu
bisa berangkat haji, gak usah jual motor segala, itukan kendaran kita
satu-satunya” pungkas sang ibu, “ kamu mau jual motor kita mas? Jangan gila deh
kamu” jawab sang istri mendengar motor suaminya hendak dijual,” pokonya aku
harus jual motor itu. Titik “ jawab Ali dengan nada meninggi, ” aku gak habis
pikir apa yang ada dipikran kamu, tapi kalo kamu tetep pengen jual itu motor
yasudah terserah kamu saja mas, sebagai istri aku cuma bisa mengikuti suami “
jawab sang istri dengan agak kecewa, “ ibu juga terserah kalian berdua, ibu
mengikuti saja” jawab sang ibu memberi izin, “ kalo begitu besok Ali akan coba
cari orang yang mau beli ini motor” kata si Ali dengan nada gembira.
Seminggu kemudian Ali berhasil
menjual motornya dengan harga 8 juta, ia pun segera pergi ke tempat pengajian
yang biasa ia datangi sambil membawa uang hasil penjualan motornya dan
menghampiri sang kiayi yang ketika itu memberikan ceramah tentang sedekah, “
Pak kiayi maksud kedatangan saya kemari ingin memberikan sedikit harta yang
saya punya pak, karena waktu minggu kemaren di pengajian saya belum sempat
ngasih pak” kata si Ali, “ alhamdulillah, yaudah mana sini uangnya” pinta sang
kiayi, “ini pak, maaf tidak banyak” kata Ali sambil memberikan amplop yang
berisi uang. Ketika sang kiayi membuka isi amplopnya sang kiayi langsung kaget
melihat isi amplop tersebut “ Subhanallah Ali banyak bener ini duit, kamu yakin
mau sedekahin semuanya? Kamu dapet uang dari mana?” Tanya sang kiayi dengan
nada kaget, “ itu halal ko pak, saya dapet dari hasil jual motor saya” jawab
Ali, “ jadi kamu jual motor buat bisa sedekah?” Tanya kembali sang kiayi, “iyaa
pak” jawab Ali,” kalo begitu saya kembalikan uang ini, saya tau betul siapa
kamu, itukan harta kamu satu-satunya” kata sang kiayi sambil memberikan amplop
tersebut, “ gak bisa pak, itu sudah menjadi keputusan saya. Bukankah pak kiayi
sendiri yang bilang kalo kita harus bersedekah dengan harta terbaik kita”
pungkas Ali, merasa terkesan dengan niat Ali sang kiayi pun akhirnya menerima
sedekah tersebut “ yasudah kalo kamu ngotot saya akan terima uang ini “.
Akhirnya Ali keluar dari masjid tersebut dengan hati yang senang karena telah
bersedekah.
Hari demi hari dia lewati tanpa
motor kesayangannya, sekarang dia menggunakan angkutan umum untuk berangkat ke
sekolah tempatnya mengajar. Sempat terbesit penyesalan di kepala Ali namun dia
selalu meyakinkan hatinya bahwa keputusan yang dia ambil itu tepat. 6 bulan
berlalu Ali masih menjalani kehidupannya sebagai guru, di suatu pagi ketika ia
hendak mengajar tiba-tiba kepalanya pusing dan merasa tak enak badan untuk
pergi mengajar, Ali pun segera memberi kabar kepada pihak sekolah untuk tidak
masuk hari tersebut karena sakit. 2 jam kemudian setelah ia meminta izin tidak
mengajar pusing di kepalanya seketika hilang dan keadaan tubuhnya kembali normal,
ia pun bingung apa yang terjadi dengan tubuhnya itu, merasa bosan hanya berdiam
diri seharian dirumah ia memutuskan untuk keluar rumah untuk mencari makan. Ia
pergi menyusuri jalan di dekat rumahnya hingga sampai di warung kopi
langganannya, sesampainya disana ternyata sang pemilik warung hendak pergi dan
meminta Ali untuk menjaga warungnya “Eh.. kebetulan lu dateng, tolong jagain
dulu warung gua dong. Gua mau pergi dulu sebentar” pinta si pemilik warung, “
aaahh payah dah baru aja gua dateng, yaudah kalo mau pergi hati hati nanti ini
warung biar gua yang jaga” jawab Ali. Setelah beberapa menit pemilik warung
pergi lalu tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat didepan warung tersebut, sang
pemilik mobil keluar dan bertanya kepada Ali “ permisi pak saya mau bertanya,
kalo tanah yang mau dijual di ujung jalan sana itu punya siapa ?” Tanya sang
pemilik mobil tersebut,” oooh itu punya H.Ahmad pak” jawab Ali, “ kalo saya
boleh tau rumah beliau dimana ya pak?” Tanya kembali pria tersebut, “ bapak
dari sini ikutan jalan aja, nanti disebelah kana nada rumah yang temboknya
warna biru sama pagar warna hitam nah itu rumah dia pak, coba aja bapak
sekarang kesana biasanya kalo masih pagi kaya gini H.Ahmad masih ada dirumah”
jawab Ali, “ohgitu ya pak, terimakasih banyak pak”, setelah itu sang pria tadi
pergi menuju rumah H.Ahmad dan Ali kembali melanjutkan menjaga warung tersebut.
Satu minggu kemudian sang pria pemilik mobil
itu kembali lagi ke warung tersebut dan terheran bukan Ali yang menjaga warung,
sang pria itu lantas menanyakannya kepada sang penjaga warung “ permisi pak,
kalo pemilik warung ini siapa ya?” Tanya sang pria, “ini warung milik saya pak,
memangnya kenapa pak?” jawab si pemilik warung,”saya lagi nyari orang yang jaga
warung ini minggu lalu pak, di hari senin? Tapi ko pas saya kesini yang jaga
warungnya ko beda yah?” Tanya kembali sang pria tersebut, “oooh itu si Ali yang
jaga pak, kebetulan minggu kemaren itu saya ada urusan jadi dia gantiin saya
jaga warung ini, bapak kalo mau kerumahnya belok kiri aja rumahnya ada
dibelakang warung saya pak” jawab si pemilik warung sambil menjelaskan lokasi
rumah Ali,”Terimakasih banyak pak” jawab sang pria. Sang pria itu langsung
bergegaskerumah Ali dan berhasil menemuinya, Ali pun kaget apa gerangan yang
membuat pria ini sampai mencarinya, “ Maaf sebelumnya pak, maksud kedatangan
bapak kemari ada apa ya?” Tanya Ali, “ jadi begini pak, minggu kemarin saya
melihat tanah yang mau dijual di daerah sini yang ternyata adalah tanah milik
H.Ahmad, saya langsung tertarik dengan tanah tersebut dan sangat ingin
membelinya tetapi saya tidak tahu dimana letak rumah H.Ahmad, saya bertanya
kepada bapak yang sedang menjaga warung dan bapak langsung memberi tahu saya.
Sebelum saya melangkahkan kaki kerumah H.Ahmad saya sempat bernazar apabila
negosiaisi tanah saya hari itu sukses maka saya akan memberikan sepuluh persen
dari jumlah transaksi yang terjadi di hari itu kepada orang yang telah
menunjukan rumah H.Ahmad kepada saya yang tidak lain adalah bapak sendiri, saya
akan menganggap bapak adalah perantara transaksi tanah ini jadi bapak akan
mendapat bagian dari transaksi tersebut, dan Alhamdulillah saya sudah membeli
tanah tersebut. Jadi tujuan uatama kedatngan saya kemari untuk memberi uang
bagian bapak.” Kata sang pria,”yaa Alhamdulillah kalo gitu pak, emang kalo
boleh tau tanah H.Ahmad terjual berapa juta?” Tanya Ali.” Kemarin saya membeli
tanah tersebut dengan harga Sembilan ratus juta, jadi bapak akan menerima uang
dari saya sebesar Sembilan puluh juta” penjelasan sang pria. Ali terdiam mendengar
nominal uang sebesar itu yang akan ia terima “ bapak nggak bohong kan pak?”
Tanya Ali sambil menahan kaget, “ nggak pak buat apa saya bohong” jawab sang
pria, “ kalo uang segitu bisa dipake buat berangkat naik haji satu orang nggak
pak?” Tanya Ali, “ ngapain satu orang buat bertiga juga bisa, malah masih ada
lebihnya pak” jawab sang pria tersebut, “subhanallah….!!!” Teriak Ali sambil
masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria tersebut.
Akhirnya Ali mampu memberangkatkan
ibunya ke tanah suci, tidak hanya itu dia beserta istrinya pun ikut bersama
menunaikan rukun islam yang ke 5 dan sisa uang naik haji ia belikan motor baru
untuk mengganti motor lamanya yang ia jual untuk bersedekah, Ali tak pernah
menyangka akan mampu mewujudkan impiannya dengan cara tersebut, yang ia lakukan
selama ini hanya percaya pada impiannya,sabar, dan kebesaran yang maha kuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar