Senin, 16 November 2015

Dilarang Pelit !


Ali adalah seorang guru honorer pada tahun 90an di sebuah sekolah dijakarta, ia memiliki seorang istri yang sangat mencintainya bernama Siti, Mereka berdua tinggal bersama ibu Ali dirumah sederhana peninggalan ayah Ali yang telah wafat 5 tahun yang lalu. Sejak kecil Ali selalu berkeingininan untuk memberangkatkan ibunya ke tanah suci yang telah lama dirindukan oleh ibunya, namun hingga ia dewasa dan menikah kini mimpi tersebut belum sempat terwujud karena alasan keterbatasan biaya yang ia miliki. Satu - satunya harta yang ia miliki adalah motor tua yang telah dia miliki sejak ia masih berstatus siswa SMA, hingga saat ini motor itu masih terawat dengan baik olehnya. Ali sering mendatangi pengajian yang diadakan dimasjid tidak jauh dari tempat dia mengajar, seiring seringnya Ali mendatangi pengajian tersebut hingga membuat pengurus masjid dan sang ulama setempat mengenalnya dengan baik karena kepribadian Ali yang baik dan mudah bergaul dengan lingkungan sekitar.
Disuatu siang sepulang mengajar seperti biasa Ali menyempatkan untuk datang ke pengajian rutinnya, kebetulan tema pengajian pada saat itu mengupas mengenai keutamaan sedekah dan manfaatnya.”Tidak akan berkurang harta yang disekahkan melainkan akan bertambah… bertambah… bertambah…” kata sang kiayi mengutip hadist Nabi. Setelah usai pengajian sang kiayi membuka sorban yang ia kenakan dan diletakannya sorban tersebut diatas lantai lalu ia berkata “mari saudara saudara kita sedekahkan harta terbaik kita saat ini”, dengan serentak semua orang yang ada di pengajian itupun memberikan harta terbaik mereka mulai dari semua uang yang ada di dompet, cincin, jam tangan, dan apapun yang mereka milki ketika itu, Ali seketika terdiam saat itu karena ia tak bisa menyedekahkan apapun bukan karena ia tak ingin bersedekah tetapi ia merasa tidak ada satupun harta berharga yang ia miliki untuk disumbangkan. Keluar dari pengajian dengan hati yang kecewa Ali pun menuju parkiran tempat ia menyimpan motornya, ketika ia menatap motor kesayangannya ia pun langsung berkeinginan untuk menyedekahkan harta satu-satunya itu. Tanpa pikir panjang ia segera pulang kerumah untuk meminta izin kepada istri dan ibunya untuk menjual motornya. “ibu… saya mau minta izin mau jual motor yang di beliin bapak “ kata Ali dengan nada yang rendah, “emang kenapa ko mau jual motor segala, Ali butuh uang buat apa?” jawab sang ibu, “ insyaAllah Ali mau sedekahkan uang hasil penjualan motor nanti, yaa semoga aja dengan cara itu Allah ngasih ridho-Nya buat Ali supaya bisa berangkatin ibu ibadah haji” jawab Ali, “ yaa ampun udah lah mungkin emang belom rezeki ibu bisa berangkat haji, gak usah jual motor segala, itukan kendaran kita satu-satunya” pungkas sang ibu, “ kamu mau jual motor kita mas? Jangan gila deh kamu” jawab sang istri mendengar motor suaminya hendak dijual,” pokonya aku harus jual motor itu. Titik “ jawab Ali dengan nada meninggi, ” aku gak habis pikir apa yang ada dipikran kamu, tapi kalo kamu tetep pengen jual itu motor yasudah terserah kamu saja mas, sebagai istri aku cuma bisa mengikuti suami “ jawab sang istri dengan agak kecewa, “ ibu juga terserah kalian berdua, ibu mengikuti saja” jawab sang ibu memberi izin, “ kalo begitu besok Ali akan coba cari orang yang mau beli ini motor” kata si Ali dengan nada gembira.
Seminggu kemudian Ali berhasil menjual motornya dengan harga 8 juta, ia pun segera pergi ke tempat pengajian yang biasa ia datangi sambil membawa uang hasil penjualan motornya dan menghampiri sang kiayi yang ketika itu memberikan ceramah tentang sedekah, “ Pak kiayi maksud kedatangan saya kemari ingin memberikan sedikit harta yang saya punya pak, karena waktu minggu kemaren di pengajian saya belum sempat ngasih pak” kata si Ali, “ alhamdulillah, yaudah mana sini uangnya” pinta sang kiayi, “ini pak, maaf tidak banyak” kata Ali sambil memberikan amplop yang berisi uang. Ketika sang kiayi membuka isi amplopnya sang kiayi langsung kaget melihat isi amplop tersebut “ Subhanallah Ali banyak bener ini duit, kamu yakin mau sedekahin semuanya? Kamu dapet uang dari mana?” Tanya sang kiayi dengan nada kaget, “ itu halal ko pak, saya dapet dari hasil jual motor saya” jawab Ali, “ jadi kamu jual motor buat bisa sedekah?” Tanya kembali sang kiayi, “iyaa pak” jawab Ali,” kalo begitu saya kembalikan uang ini, saya tau betul siapa kamu, itukan harta kamu satu-satunya” kata sang kiayi sambil memberikan amplop tersebut, “ gak bisa pak, itu sudah menjadi keputusan saya. Bukankah pak kiayi sendiri yang bilang kalo kita harus bersedekah dengan harta terbaik kita” pungkas Ali, merasa terkesan dengan niat Ali sang kiayi pun akhirnya menerima sedekah tersebut “ yasudah kalo kamu ngotot saya akan terima uang ini “. Akhirnya Ali keluar dari masjid tersebut dengan hati yang senang karena telah bersedekah.
Hari demi hari dia lewati tanpa motor kesayangannya, sekarang dia menggunakan angkutan umum untuk berangkat ke sekolah tempatnya mengajar. Sempat terbesit penyesalan di kepala Ali namun dia selalu meyakinkan hatinya bahwa keputusan yang dia ambil itu tepat. 6 bulan berlalu Ali masih menjalani kehidupannya sebagai guru, di suatu pagi ketika ia hendak mengajar tiba-tiba kepalanya pusing dan merasa tak enak badan untuk pergi mengajar, Ali pun segera memberi kabar kepada pihak sekolah untuk tidak masuk hari tersebut karena sakit. 2 jam kemudian setelah ia meminta izin tidak mengajar pusing di kepalanya seketika hilang dan keadaan tubuhnya kembali normal, ia pun bingung apa yang terjadi dengan tubuhnya itu, merasa bosan hanya berdiam diri seharian dirumah ia memutuskan untuk keluar rumah untuk mencari makan. Ia pergi menyusuri jalan di dekat rumahnya hingga sampai di warung kopi langganannya, sesampainya disana ternyata sang pemilik warung hendak pergi dan meminta Ali untuk menjaga warungnya “Eh.. kebetulan lu dateng, tolong jagain dulu warung gua dong. Gua mau pergi dulu sebentar” pinta si pemilik warung, “ aaahh payah dah baru aja gua dateng, yaudah kalo mau pergi hati hati nanti ini warung biar gua yang jaga” jawab Ali. Setelah beberapa menit pemilik warung pergi lalu tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat didepan warung tersebut, sang pemilik mobil keluar dan bertanya kepada Ali “ permisi pak saya mau bertanya, kalo tanah yang mau dijual di ujung jalan sana itu punya siapa ?” Tanya sang pemilik mobil tersebut,” oooh itu punya H.Ahmad pak” jawab Ali, “ kalo saya boleh tau rumah beliau dimana ya pak?” Tanya kembali pria tersebut, “ bapak dari sini ikutan jalan aja, nanti disebelah kana nada rumah yang temboknya warna biru sama pagar warna hitam nah itu rumah dia pak, coba aja bapak sekarang kesana biasanya kalo masih pagi kaya gini H.Ahmad masih ada dirumah” jawab Ali, “ohgitu ya pak, terimakasih banyak pak”, setelah itu sang pria tadi pergi menuju rumah H.Ahmad dan Ali kembali melanjutkan menjaga warung tersebut.
 Satu minggu kemudian sang pria pemilik mobil itu kembali lagi ke warung tersebut dan terheran bukan Ali yang menjaga warung, sang pria itu lantas menanyakannya kepada sang penjaga warung “ permisi pak, kalo pemilik warung ini siapa ya?” Tanya sang pria, “ini warung milik saya pak, memangnya kenapa pak?” jawab si pemilik warung,”saya lagi nyari orang yang jaga warung ini minggu lalu pak, di hari senin? Tapi ko pas saya kesini yang jaga warungnya ko beda yah?” Tanya kembali sang pria tersebut, “oooh itu si Ali yang jaga pak, kebetulan minggu kemaren itu saya ada urusan jadi dia gantiin saya jaga warung ini, bapak kalo mau kerumahnya belok kiri aja rumahnya ada dibelakang warung saya pak” jawab si pemilik warung sambil menjelaskan lokasi rumah Ali,”Terimakasih banyak pak” jawab sang pria. Sang pria itu langsung bergegaskerumah Ali dan berhasil menemuinya, Ali pun kaget apa gerangan yang membuat pria ini sampai mencarinya, “ Maaf sebelumnya pak, maksud kedatangan bapak kemari ada apa ya?” Tanya Ali, “ jadi begini pak, minggu kemarin saya melihat tanah yang mau dijual di daerah sini yang ternyata adalah tanah milik H.Ahmad, saya langsung tertarik dengan tanah tersebut dan sangat ingin membelinya tetapi saya tidak tahu dimana letak rumah H.Ahmad, saya bertanya kepada bapak yang sedang menjaga warung dan bapak langsung memberi tahu saya. Sebelum saya melangkahkan kaki kerumah H.Ahmad saya sempat bernazar apabila negosiaisi tanah saya hari itu sukses maka saya akan memberikan sepuluh persen dari jumlah transaksi yang terjadi di hari itu kepada orang yang telah menunjukan rumah H.Ahmad kepada saya yang tidak lain adalah bapak sendiri, saya akan menganggap bapak adalah perantara transaksi tanah ini jadi bapak akan mendapat bagian dari transaksi tersebut, dan Alhamdulillah saya sudah membeli tanah tersebut. Jadi tujuan uatama kedatngan saya kemari untuk memberi uang bagian bapak.” Kata sang pria,”yaa Alhamdulillah kalo gitu pak, emang kalo boleh tau tanah H.Ahmad terjual berapa juta?” Tanya Ali.” Kemarin saya membeli tanah tersebut dengan harga Sembilan ratus juta, jadi bapak akan menerima uang dari saya sebesar Sembilan puluh juta” penjelasan sang pria. Ali terdiam mendengar nominal uang sebesar itu yang akan ia terima “ bapak nggak bohong kan pak?” Tanya Ali sambil menahan kaget, “ nggak pak buat apa saya bohong” jawab sang pria, “ kalo uang segitu bisa dipake buat berangkat naik haji satu orang nggak pak?” Tanya Ali, “ ngapain satu orang buat bertiga juga bisa, malah masih ada lebihnya pak” jawab sang pria tersebut, “subhanallah….!!!” Teriak Ali sambil masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria tersebut.

Akhirnya Ali mampu memberangkatkan ibunya ke tanah suci, tidak hanya itu dia beserta istrinya pun ikut bersama menunaikan rukun islam yang ke 5 dan sisa uang naik haji ia belikan motor baru untuk mengganti motor lamanya yang ia jual untuk bersedekah, Ali tak pernah menyangka akan mampu mewujudkan impiannya dengan cara tersebut, yang ia lakukan selama ini hanya percaya pada impiannya,sabar, dan kebesaran yang maha kuasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar