Kamis, 07 November 2013

Masihkah Percaya Zodiak (Tugas Softskill Minggu ke 5)


Masihkah Percaya Zodiak
Zodiak (dari kata Yunani Zoodiacos Cyclos yang artinya Lingkaran Hewan) adalah sebuah sabuk khayal di langit dengan lebar 18° yang berpusat pada lingkaran ekliptika, tetapi istilah ini dapat pula merujuk pada rasi-rasi bintang yang dilewati oleh sabuk tersebut, yang sekarang berjumlah 12. Biasanya zodiak berkaitan erat dengan tanggal dan bulan lahir seseorang jadi untuk menentukan seseorang berzodiak apa di lihat dari tanggal dan bulan lahirnya, dan menurut lamaran zodiak setiap orang yang memiliki zodiak yang berbeda akan memiliki karakter yang berbeda pula berdasarkan zodiak yang mereka miliki, Selain dapat membaca karakter zodiak juga dipercayai dapat meramal karir, keuangan, asmara, dan kesehatan di setiap minggunya. Berikut adalah contoh 12 zodiak berdasarkan tanggal/ bulan lahir dan sifat – sifat seseorang berdasarkan zodiaknya :
Nama Zodiak
Tgl/bln lahir
Karakter
Capricorn
22 Desember - 20 Januari
gengsi tinggi, rajin, pendiam, materialis, teguh pendirian, ambisius, suka memerintah, dan mampu mengorganisir teman-temannya.
Aquarius
21 Januari - 19 Februari
jenius, tenang, penuh ide, obyektif (tidak memihak), cepat mengerti
Pisces
20 Februari - 20 Maret
penuh cinta, praktis, memiliki sisi manusiawi yang besar, suka mengkhayal
Aries
21 Maret-19 April
energik, cepat emosi, agresif, impulsif, berjiwa pemimpin, tidak sabaran, egois
Taurus
21 April-20 Mei
materialistis, keras kepala, pasif, praktis dan setia, ramah & sabar, memiliki jiwa toleransi
Gemini
21 Mei-21 Juni
pandai berbicara, lincah, mudah berubah-ubah, tidak stabil, mudah gugup, sangat peka
Cancer
22 Juni-22 Juli
setia, penuh perhatian, sulit memaafkan, memiliki daya ingat yang kuat, suasana hati tidak menentu, sentimentil,
Leo
23 Juli-23 Agustus
suasana hati sering berubah, setia, penuh perhatian, sentimentil, sulit memaafkan, memiliki daya ingat yang kuat
Virgo
24 Agustus-22 September
analistis, praktis kritis, rajin, berkepala dingin dan logis, sederhana
Libra
23 September-23 Oktober
memiliki naluri yang kuat, bimbang, penuh keraguan, adil pandai bermuka dua, mempesona
Scorpio
24 Oktober-22 November
gigih, panjang akal, pendendam, tekun , pendiam.
Sagitarius
23 November-21 Desember
pandai berdiplomasi, berpandangan luas pandai, berjiwa petualang, mandiri, suka kebebasan.

                Sebagai umat beragama masih kita percaya akan zodiak ? bila jawabannya “ YA “ dimana anda letakan peran dan takdir  Tuhan bila karir, kesehatan, dan keungan di tentukan oleh zodiak.  bila hal ini terus terjadi ditakutkan akan mengurangi keimanan kita terhadap Tuhan yang maha esa karena kita tahu bahwa ketentuan Tuhan adalah sesuatu yang mutlak dan kebenaran yang hakiki hanyalah milik Tuhan YME, kebanyakan dari mereka yang mempercayai ramalan zodiac adalah para remaja. Bila hal ini biarkan terus menerus ditakutkan generasi muda akan menjadi generasi yang menggantugkan hidupnya pada zodiac bukan pada usaha mereka ditambah ketebtuan dan takdir dari Tuhan YME.
                Sebagai generasi muda yang cerdas kita semua harusnya tahu bahwa sifat seseorang ditentukan oleh faktor lingkungan dan keluarganya bukan zodiaknya, dan seharusnya kita semua pun tahu bahwa naik turunnya keuangan, karir, asmara, dan kesehatan ditentukan oleh usaha kita sebagai manusia yang menjalankan kehidupan dan takdir atau kehendak Tuhan.

Minggu, 03 November 2013

Masalah Kerukunan Umat Beragama ( Tugas Softskill Minggu ke 4 )


Masalah Kerukunan Umat Beragama

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki penduduk dengan jumlah yang sangat besar. Di tengah-tengah besarnya jumlah penduduk tersebut, tumbuh dan berkembang keragaman budaya, sosial, dan agama. Dari sisi agama, Indonesia mengakui hidup dan berkembangnya enam agama resmi negara, yaitu islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, hindu, Buddha, dan Khongucu. Kemajemukan masyarakat dalam hal agama dapat merupakan sumber kerawanan sosial apabila pembinaan kehidupan beragama tidak tertata dengan baik. Masalah agama merupakan masalah yang bersifat sensitive yang sering memunculkan konflik dan permusuhan atar golongan pemeluk agama. Seperti yang sering kita lihat di media massa akhir – akhir ini ada sekolompok pemeluk agama yang ingin beribadat tetapi di halangi oleh umat beragama lainnya, dan juga masalah lain yang sering muncul adalah sulitnya membangun rumah ibadah bagi beberapa golongan umat beragama karena sulitnya mendapat perijinan dari pemerintah setempat, hal ini kadang menyebabakan gesekan fisik antar umat beragama, dan kadang konflik antar pemeluk agama terjadi karena hal ini sebenarnya bukan dipermasalahkan semata-mata oleh perbadaan agama, melainkan ditopangi berbagai kepentingan terutama kepentingan politik.
Bila hal semacam ini terus di biarkan bukan tidak mungkin nilai – nilai pluralisme bangsa indonesia akan luntur dan akan terus menyebabkan bentrok antar umat beragama, dan kalimat kerukunan beragama hanya akan menjadi kalimat penghias bibir saja tanpa ada wujud nyata yang dilakukan oleh masyarakat, bukankah kebebasan memeluk sudah tercantum di UUD 1945 dan juga Pancasila, jadi kenapa harus di permasalahkan bila memang benar ideologi kita adalah pancasila, dan sudah seharusnya sebagai umat beragama kita harus menyelesaikan semua persoalan yang terkait dengan perbedaan beragama dengan kepala dingin
Perlu peran dari semua pihak untuk mewujudkan kerukunan beragama yang hakiki, mulai dari masyarakat dan pemerintah, dan kedewasaan umat beragama. Dan tiap – tiap umat beragam harus menghormati umat beragama lainnya yang tidak satu keyakinan dengan mereka
kerukunan agama itu sangat penting dalam kehidupan. Karena tanpa adanya rasa rukun dalam beragama akan dapat menimbulkan gesek-gesekan negative yang tidak diinginkan. Karena adanya fungsi kerukunan agama dapat menjaga ketentraman masyarakat, saling menghormati antar umat berama, mencegah terjadinya pertentangan antara agama, dan mempersatukan perbedaan antar umat beragama.

Kamis, 24 Oktober 2013

Pro dan Kontra Game Online ( Tugas Softskill Minggu ke 3 )


Pro dan Kontra Game Online

                Di era globalisasi saat ini kemajuan teknologi sangat berjalan sangat cepat dan mampu berkembang dengan cepat, hampir semua orang terkaya di dunia berbasis pada perusahaan teknologi yang mereka miliki. Tak terkecuali game online yang saat ini tengah di gandrungi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia mulai dari anak – anak, remaja, hingga orang dewasa yang tak luput dari syndrome game online, hal ini menjadi permasalahan bagi masyarakat selain sisi positif game online yang mampu menghibur masyarakat dari kejenuhan hidup dan juga menandakan masyarakat kita yang sudah melek terhadap tekhnologi, game online juga memiliki banyak sisi negative antara lain mampu mengubah struktur sosial dan budaya pada masyarakat kita.
                Sangat di maklumi apabila anak – anak kita memilih game online dari pada permainan tradisional Indonesia, hal ini di karenakan game online lebih praktis, tidak memerlukan banyak tempat, dan juga kadang menjadi parameter kehebatan teknologi seorang anak. Terkadang anak – anak yang tidak kurang mampu yang kecanduan game online tidak jarang melakukan tindakan kriminal contohnya mencuri sepeda motor seperti yang diberitakan di media massa beberapa saat yang lalu. Game online pun terkadang mengganggu proses pendidikan seorang anak/remaja dan kariri orang dewasa.
                Hal ini harus menjadi perhatian semua pihak di mulai dari lingkungan terkecil dalam yaitu keluarga, keluarga harusnya menjadi pengawas pertama seorang anak dan mengetahui apa yang dilakukan atau dimainkan anaknya/ anggota keluarganya, tidak salah memang bila kita menghilangkan stress dengan bermain game online tetapi harus dengan batas yang sewajarnya dan tanpa menghilangkan budaya/identitas kita sebagai bangsa. Apalagi bagi orang dewasa menghilangkan kepenatan pekerjaan terkadang baik demi peningkatan produktifitas dalam bekerja. Secara garis besar tidak masalah keberadaan game online di Indonesia bila masih dapat terkontrol dengan baik oleh kita, apalagi keluarga yang dapat mengawasi anaknya agar tidak mengganggu pendidikan dan pertumbuhan secara fisik maupun psikis  

Minggu, 20 Oktober 2013

Haji atau Gengsi ( Tugas 2 Sosial Dasar )


Haji atau Gengsi

Haji adalah ibadah yang istimewa jika dilihat dari beratnya persyaratan, prosesi ibadah dan reward yang dijanjikan oleh Sang Pemilik Kehidupan, Allah SWT. Karenanya sangat masuk akal jika haji ditempatkan sebagai rukun Islam yang ke lima. Saking istimewanya setiap tahun jutaan umat muslim dari seluruh dunia rela menghabiskan biaya yang besar, meluangkan waktunya dan meninggalkan segala kenyamanan dunianya selama berhari-hari untuk berkumpul di tanah suci. Tidak terkecuali jamaah haji dari Indonesia yang jumlahnya kurang lebih mencapai 250-ribuan orang per tahunnya. Jumlah yang sangat besar karena indonesia pemilik umat muslim terbesar di dunia. Sementara bagi umat muslim lain yang belum beruntung hanya bisa menyaksikannya dari layar kaca. Bisa jadi mereka pun orang-orang yang memiliki mimpi yang sama agar bisa datang ke tanah suci untuk memenuhi panggilan Ilahi. Di Indonesia sendiri masih ada jutaan orang yang menunggu giliran karena panjangnya antrian hingga mencapai 10 tahun lebih. Luar biasa….
Karena selain untuk memenuhi rukun Islam yang ke lima, dan memenuhi panggilan Allah SWT, haji juga merupakan ibadah yang memiliki daya tarik dan daya magis luar biasa yang berkaitan dengan gengsi dan status sosialnya di masyarakat. Lihatlah, mereka yang belum bisa berhaji. Segala daya dan upaya diperjuangkan untuk bisa memenuhi syarat memenuhi panggilan-Nya. Beberapa di antaranya bahkan rela melacurkan dan merendahkan diri dengan berbuat curang dan melanggar aturan agama dan Negara agar bisa segera berangkat berhaji. Misalnya, ada koruptor yang berhaji untuk menyamarkan hartanya sekaligus sebagai pertobatan sementara. Tobat saat berhaji lalu kumat lagi selesai berhaji. Di sisi lain ketika orang – orang yang benar – benar ingin melaksanakan haji karena bukan gengsi semata harus terhalang oleh biaya, dan antrian yang lama hal ini tidak terjadi bagi para pejabat tinggi negara karena mereka dapat bebas berangkat ke tanah suci tanpa menunggu antrian layaknya masyarakat biasa. Tidak hanya itu otoritas negara yang mengelola proses ibadah haji mulai dari keberangkatan, proses ibadah di tanah suci, hingga pulang kembali ke tanah air tidak luput dari sarang koruptor.

Banyaknya umat muslim Indonesia yang telah berhaji dan berminat untuk berhaji seharusnya bisa dijadikan salah satu indikator kesalehan individu dan kesalehan sosial bangsa Indonesia. Ibadah seharusnya melahirkan orang-orang saleh, jujur, berintegritas dan mampu menjadi teladan bagi yang lain. Lihatlah, hampir semua prosesi dalam ibadah haji adalah pengglembengan spiritual yang berkaitan dengan peningkatan kesalehan individu dan kesalehan sosial jamaah haji. Jika benar haji untuk melahirkan orang-orang saleh, jujur, berintegritas dan mampu menjadi teladan bagi yang lain maka seharusnya produk-produk haji mampu menjadi lokomotif kesalehan sosial dan kemajuan bangsa. Tapi faktanya justru sebaliknya. Hampir sebagian besar koruptor yang beragama Islam dan namanya banyak dikenal publik justru orang-orang yang telah berhaji dan umroh dan ini sangat bertolak belakang  dengan membludaknya jumlah Pak Haji dan Bu Haji di tanah air tercinta. Lebih miris lagi ternyata membludaknya Pak Haji dan Bu Haji serta calon Pak Haji dan Bu Haji yang jumlahnya mencapai jutaan orang tersebut ternyata tak berbanding lurus dengan moralitas, kesalehan sosial dan masyarakat madani yang berkeadilan.
Melihat fenomena yang telah dengan terang benderang digambarkan di atas, maka menjadi pertanyaan kita semua mengapa ibadah haji tidak memberikan perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat. Jawabannya bisa jadi karena adanya perubahan paradigma di masyarakat bahwa berhaji hanya untuk memenuhi rukun Islam yang ke lima semata. Tidak lebih dan tidak kurang. Paradigma yang lebih mengutamakan meraih gelar haji daripada esensi dan implikasi produk dari berhaji.Bisa jadi ada di antara mereka yang berhaji karena hanya ingin mendapatkan label Pak Haji dan Bu Haji untuk meningkatkan gengsi sosial di masyarakat, tetapi tidak semua haji indonesia seperti apa yang saya gambarkan di atas.
Hal ini harus segera di atasi karena apabila tidak akan berdampak buruk di masa yang akan datang terutama bagi umat muslim di indonesia. Langkah – langkah yang dapat kita lakukan antara lain adalah mengubah paradigma berhaji itu sendiri, bagi yang melaksanakan haji harus memaknai setiap proses ibadah di tanah suci mulai dari tawaf, wukuf, sai, lempar jumroh, dll, dan berhaji semata – semata karena Allah SWT.

Tambahan Refrensi : http://lifestyle.kompasiana.com